Kamis, 24 April 2008

Ayahku, pahlawanku


Guys, mungkin kamu pernah merasakan betapa kasih sayang yang diberikan ayah kamu itu benar-benar begitu berarti banget seperti yang aku rasakan....

Aku cuma mau berbagi cerita di sini, betapa aku bangga terhadap ayahku. Karena dia sosok orang yang baik hati dan tidak pernah mengeluh demi menghidupi keluarganya. Ayahku bukan lahir keluarga kaya, dia anak ke-4 dari 9 bersaudara sementara ayah ibunya cuma tani. Yah, tapi ayahku punya semangat untuk memperbaiki hidup dengan merantau ke Jakarta. Selepas tamat SMA, ayahku mencoba bekerja sebagai buruh pabrik boneka. Jadi korektor perusahaan percetakan, sampai nasib akhirnya membawa ayahku bekerja di Bank Indonesia. Di BI ini, ayahku sekolah lagi dan sampai dia pensiun, Alhamdulilah pensiun ayahku lebih dari cukup untuk sekedar hidup. Jadi, begitu ayahku pensiun, dia cuma hobi berkebun di sebidang tanah yang dia beli di daerah Jatiwaringin, Pondok Gede.

Ayahku tidak pelit dan gampang banget minta uang sama ayahku. Bahkan, waktu aku kerja dan gajiku kecil, tiap bulan aku dapat tambahan gaji dari ayahku. Untuk memperpanjang sim A ku waktu itu aja, masih dibayarin ayahku. Selepas kuliah pun , aku masih bisa meneruskan S2, tapi sayang aku bodoh, jadi yach....pendidikan cukup S1 komunikasi aja. Tapi aku sempat juga kuliah D2 Public Relations dan D2 PGTK (Pendidikan Guru TK).

Kenapa aku begitu kehilangan saat ayahku meninggal pada 26 September 2006 lalu, karena ayahku paling sayang sama aku. Mungkin karena duluuuu...aku tuh sering sakit, sering masuk rumah sakit, jadi ayahku paling khawatir sama kondisi aku. Bahkan, kakak dan adikku saja sampai dibuat iri gara-gara ayahku terlalu perhatian sama aku.

Ayahku ini begitu baik dan terlalu melindungi banget ke-4 anak perempuannya sehingga anak-anaknya bisa dibilang terlambat dewasa. Mungkin karena ayahku terlalu khawatir punya anak perempuan semua. Tapi ayahku berhasil mendidik anak-anaknya jadi mandiri. Kakakku yang pertama, seorang dokter di RS di Cilengsi, Bogor, kakakku yang kedua, sudah dapat jabatan yg lumayan di Bank BII dan adikku, kerja di Pemda DKI. Aku meskipun nggak seperti mereka, paling tidak, aku berusaha mandiri.

Aku memang harus mensyukuri memiliki seorang ayah seperti ayahku ini. Ayahku tampaknya sudah memikirkan masa depan untuk anak-anaknya. Ayahku memang tidak meninggalkan banyak harta, tapi dia sudah mempersiapkan buat kami bahwa kami tidak akan susah jika dia meninggal.

26 September 2006
Aku nggak bisa lupa gimana saat ayahku menghembuskan nafasnya terakhir.....di RS Paviliun Kartika, Gatot Subroto. Saat itu, ayahku memasuki hari yang ke-9 setelah dirawat di ruang ICU. Sorenya, seluruh peralatan yang menyiksa tubuh ayahku, seperti ventilator, alat pemacu jantung dan sebagainya dilepas. Ayahku sudah bisa ngoceh bebas. Dia bagi-bagikan sedekah untuk beberapa orang yang sudah dia amanatkan dan uang untuk para suster yang sekian hari sudah menjaga ayahku selama 24 jam! Lalu, malamnya jam 20.30 ayahku meninggal dalam posisi tidur. Ayahku meninggal dalam usia 66 tahun, usia yang menurutku belum terlalu tua.

Sebelumnya memang ayahku sempat gelisah, dan ingin membuang kateter dan infus yang masih terpasang. Dia sudah tidak mau pake baju dan minta mandi. Sempat buang air besar pula dan terakhir dia hanya menyebut astagfirullah berulang-ulang sampai dokter menyuntik obat penenang. Lima menit setelah itu, ayahku seperti tidur tapi nyatanya meninggal.

Ayahku nggak pernah masuk rumah sakit seumur hidupnya. Bahkan saat dia sakitpun dia nggak pernah mengeluh. Makanya, pas seminggu sebelum masuk rumah sakit itu, ayahku sebenarnya udah sakit, sesak nafas, tapi dia selalu bilang tidak apa-apa. Pas hari Senin, 18 September, ayahku akhirnya mau juga di bawa ke RS jantung Harapan Kita. Tapi sayang di sana, peralatan nggak lengkap, ayahku koma. Kami sibuk mencari rumah sakit yang menyediakan ventilator, dimana-mana penuh. Akhirnya ada juga di RS Paviliun Kartika Gatot Subroto. Alhamdulilah di sini ada dokter Bank Indonesia, jadi kami gampang mengurus-ngurus surat-surat untuk minta jaminan ke BI. Biaya ambulance-nya aja waktu itu sekitar Rp 800 ribuan karena harus pake ventilator. Dan cuma setengah hari, dari pagi sampai sore ayahku di RS Jantung Harapan Kita, kami kena biaya sekitar Rp 3 juta. Alhamdulilah semua diganti sama BI. Di RS Paviliun Kartika pun ayahku menghabiskan uang sekitar 9 juta sehari. Dalam 9 hari bisa mencapai Rp 81 juta, belum ditambah vitamin dan lainnya. Alhamdulilah semua dibayar oleh BI.
Sebenarnya, waktu itu penyakit ayahku nggak ketahuan, sakit apa. Paru-paru ayahku nggak bisa berfungsi karena banyak kerak akibat rokok. Ayahku kan dulu perokok berats. Selama 9 hari di ICU itu, dokter bingung juga. Apalagi ventilator, alat bantunya gak bisa dilepas-lepas. Sempet ada tawaran untuk berobat ke Singapura juga waktu itu, tapi itu cuma alternatif terakhir kalo alat ventilator ayahku gak bisa dicabut juga. Untungnya hari ke-9 alat ventilator bisa dicabut, tapi ternyata ayahku bebas sesaat karena setelah itu dia meninggal.

Yah, pokoknya ketika ayahku sakit sampai meninggal, dia tidak menyusahkan keluarganya karena dia menanggung sendiri semuanya. Biaya pemakaman pun sudah disiapkan dari Yayasan Kamboja. Umi aku juga mendapat uang duka dari BI yang jumlahnya cukup besar. Sebelum meninggal memang ayahku berpesan kalau dia minta dikubur di Tanah Kusir, dia akan meninggal jam 9 malam (dan ini jadi kenyataan) dan dia juga bilang kalau ada uang duka dari BI, itu untuk umi aku. Alhamdulilah juga, umi aku masih dapat pensiun yang jumlahnya juga masih cukup untuk biaya hidup umi aku dan biaya dia jalan-jalan. Umi aku sekarang senang jalan-jalan sama teman-teman pengajiannya. Herannya, umi aku seneng banget ke Arab. Nggak tahu nih, kemarin dia udah umroh dan jalan-jalan. Dia masih punya niat pergi haji lagi. Dulu sih, pergi hajinya sama ayahku. Mudah-mudahan aja, umi aku bisa pergi haji bareng aku. InsyaAllah...aku pingin banget naik haji tapi pakai uangku sendiri, bukan dari umi aku.

Dunia rasanya hancur banget di depan aku....saat ayahku meninggal. Aku stres banget, karena aku mikirnya buat apa aku hidup? karena aku akan mati juga....aku merasa gak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Pikiran yang sangat picik rasanya....tapi lama-lama pikiran jelekku berubah karena aku masih punya kesempatan hidup untuk lebih banyak berbuat kebaikan, bersedekah untuk almarhum ayahku, menemani umi aku.....

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Ketika kubaca di millis Tauziyah tentang keinginan anda supaya membaca tulisan tentang ayah anda, saya langsung cari web nya.., kenapa ??
karena saya sendiri juga merasakan betapa rindu nya kita terhadap orang yang namanya Ayah..tak heran bila kita ingin semua orang mengetahui betapa hebatnya Ayah saya yang telah banyak berjasa mendidik saya. terutama masalah Agama...pada ramadhan tahun 2005 ayahku juga meninggal dunia. pada usia 85 tahun...
kita tak bisa menahan kepergiaannya, kita hanya bisa pasrah...,betapapun keinginan kita untuk menahan kepergiaannya.
Kita berdoa di Bulan ramadhan ini mudah mudahan Ayah kita diberikan nikmat kubur dan dijauhkan dari siksa kubur, diampuni segala kesalahannya dan diterima segala amal baiknya serta digolongkan dengan orang orang yang saleh...Amiin.., mari kita do'a kan dan jaga buah hati Ayah kita yaitu Umi yang masih ada..agar harapan kita kelak bisa berkumpul bersama lagi di Jannah..kelak. Amin...

wassalam

Jatskudama@blogspot.com