Salah satu jenis kuliner tertua di Jepang berupa satu set makanan yang terdiri dari nasi, sup, lauk-pauk dan sayuran yang dimasak dengan cara direbus, dikukus, digoreng, ditumis atau dibakar disebut washoku.
Berkonsep “Ichiju Sansai” yang artinya “satu sup dan tiga lauk”, dalam penyajiannya, washoku bisa terdiri dari tiga lauk kombinasi daging, ikan, telur, tempe, tahu dan lauk lain yang merupakan sumber protein. Terkadang hidangan washoku juga dilengkapi dengan semangkuk kecil acar sebagai makanan pendamping. Menu yang disajikan juga bervariasi dan selalu berubah mengikuti musim. Negeri Sakura memiliki empat musim, yakni musim panas, musim semi, musim gugur dan musim dingin. Makanan khas Jepang ini menggunakan bahan makanan yang hanya bisa diperoleh pada musim-musim tertentu. Hal ini dapat menjauhkan para penikmat masakan Jepang dari kebosanan.
Menurut Executive Souschef Japanese Aerofood ACS, Osawa Suichi, selain lezat dan bergizi, menu tradisional tersebut, merupakan masakan yang dibuat untuk menghargai rasa asli dari bahan-bahannya. Sehingga bumbu yang digunakan pun tidak terlalu banyak. “Rasanya lebih natural. Karena masyarakat Jepang gemar yang hal-hal yang berbau alami dan mereka merasa bahwa bahan-bahan makanan sebenarnya sudah memiliki cita rasa alami masing-masing,” paparnya.
Makanan ini menjadi salah satu menu berkelas di Jepang, berkalori rendah dan memberikan nuansa kebersamaan. Cara penyajiannya dalam satu set nampan dengan piring dan mangkuk juga disusun menarik sehingga tampilannya begitu menggoda. Karena itulah makanan sehat ini di 2013 mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai “warisan budaya tak benda” atau Intangible Cultural Heritage.
Dalam Bahasa Indonesia, washoku artinya makanan Jepang. Disebutkan Osawa, washoku berasal dari kata “wa” artinya Jepang dan “shoku” berarti “makan atau makanan”. Sehingga washoku diartikan sebagai “makanan Jepang”.
Washoku atau yang disebut juga dengan “nihonshoku” ini sudah ada sejak 15.000 tahun silam, yaitu sejak zaman tembikar. Pada masa itu, makanan sudah diolah dengan cara direbus, dibakar dan dikukus. Sementara dengan cara digoreng hanya bisa dinikmati oleh orang kaya karena minyak sangat mahal. Kalangan rakyat biasa baru menikmati gorengan sejak 300 tahun lalu setelah harga minyak tak lagi melambung.
Washoku Halal
Seperti layaknya hidangan a la barat, washoku juga disajikan lengkap terdiri dari hidangan pembuka, hidangan utama dan hidangan penutup. Bedanya, cara penyajian washoku disediakan secara lengkap sekaligus, tidak secara bertahap.
Dalam perkembangannya, washoku semakin dikenal di dunia, terlebih beberapa jenis masakan seperti shabu-shabu, sushi, sukiyaki – yang kadang disajikan dalam satu set washoku – sudah sangat terkenal di luar Jepang. Beragam festival budaya yang digelar di luar Jepang kerap memperkenalkan hidangan tertua ini. Termasuk di dalam beberapa penerbangan ke Jepang, washoku mulai diperkenalkan.
Salah satunya, washoku halal mulai diperkenalkan oleh penerbangan Japan Airlines (JAL) sejak September 2018 lalu. Menurut Passanger Manager Japan Airlines, Sekine Shun, washoku sudah sejak lama tersedia bagi para penumpang pesawat JAL. Namun untuk lebih memberi kenyamanan para penumpang, mereka menyediakan washoku yang sudah mendapat label “halal” dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai santapan di pesawat.
“Kami memberikan pilihan menu western dan menu Jepang yaitu washoku halal. Ini merupakan pengalaman menarik bagi penumpang mencicipi hidangan tradisional Jepang,” tutur Sekine.
Semua penumpang bisa menikmati washoku. Untuk kelas bisnis, makanan pembuka washoku dengan porsi ringan terdiri dari kentang tumbuk, brokoli, udang jelly dan telur dadar Jepang atau tamago. Makanan utama terdiri dari nasi, sup miso, salad wijen (kinpira gobo), kohanu manasu dan lemon atau acar, daikon nimono, udang besar, ikan, telur, bangkuang, wortel dan sayur pelengkap. Pilihan lauk berat berupa salmon saus tapai dengan hamburger wagyu, atau salmon dengan daging tenderloin saus dan salmon telur dadar. Semuanya disajikan dengan tampilan mewah dan menarik khas Negeri Sakura.
“Menu hidangan utama dan pembuka berubah tiga bulan sekali. Sedang untuk lauk-pauk berubah sebulan sekali. Jadi penumpang akan mencicipi hidangan berbeda untuk penerbangan selanjutnya,” demikian menurut Sekine.
Menu washoku tersebut merupakan kreativitas chef Osawa Suichi yang sudah berpengalaman dan telah 10 tahun menetap di Tanah Air. Ia mengeksplorasi sebagian bahan makanan Indonesia untuk mendapatkan cita rasa asli Jepang. Sebagai contoh, ia membuat tapai untuk saus ikan salmon. Rasanya sangat mirip dengan miso manis Jepang yang langka dan harganya mahal sekali.
Lebih lanjut dijelaskan Production Manager PT Aerofood Indonesia (ACS), Bougie Bagja, dengan penyediaan washoku halal ini, pihaknya bersama JAL ingin mengedukasi penumpang tentang masakan tradisional Jepang. “Sehingga penumpang yang ingin berkunjung ke Jepang, mendapat pembelajaran tentang washoku itu seperti apa dengan merasakannya,” jelas Bougie.
Washoku yang disajikan, sambungnya, benar-benar merupakan masakan tradisional Jepang dengan cita rasa asli alami. Dia berharap, penumpang JAL akan menikmati dan makin mengenal Jepang.
KATA KUNCI :
Bumbu : Chomiryo (調味料)
Hidangan : Ryori (料理)
